Bertekad Cetak Banyak Penulis Tradisi Lisan, ATL Akan Gelar Lokakarya Penulisan

ASOSIASI Tradisi Lisan (ATL) terus membuktikan kiprahnya menjadi salah satu garda depan dalam memelihara dan melestarikan warisan budaya tak benda Indonesia. Hal ini terlihat dari berbagai agenda yang disiapkan ATL di tahun ini.

 

Beberapa agenda itu ialah lokakarya internal, Modern Endangered Archives Program (MEAP), Surveying the Recording The Oral Traditions Association bersama University of California Los Angeles (UCLA), podcast tradisi lisan, penerbitan buku Nyanyi Sunyi Tradisi Lisan jilid 2, hingga seminar dan festival di Napoli pada 30-31 Mei 2024. Tidak itu, ATL juga menyelenggarakan kegiatan pengembangan sumber daya manusia untuk mendukung upaya pelestarian tradisi lisan, yakni dengan menggelar lokakarya (workshop) jurnalis atau penulis tradisi lisan.

 

“Yang perlu dilakukan dalam pelatihan itu adalah menciptakan wartawan-wartawan Tradisi Lisan meskipun mereka akademisi, tapi tujuan utama adalah menciptakan jurnalis tradisi lisan,” kata Ketua Umum ATL Pudentia MPSS kepada Media Indonesia usai rapat pleno Pengurus Pusat ATL yang berlangsung di Direktorat Jendral Kebudayaan Kemendikbudristek, Senayan, Jakarta, Selasa (16/1).

 

Tahun ini merupakan tahun ke-5, ATL bekerja sama dengan Media Indonesia dalam menerbitkan tulisan-tulisan tradisi lisan dari seluruh Indonesia. Tulisan itu hadir dalam halaman khusus bertajuk Tradisi Lisan yang terbit setiap hari Minggu di koran Media Indonesia. Tulisan-tulisan yang terbit sepanjang tahun 2020 telah dibukukan dalam buku Nyanyian Sunyi Tradisi Lisan jilid I yang diproduksi oleh Media Indonesia Publishing dan telah terbit pada 2021.

 

“Jadi dari tokoh di Media Indonesia juga ikut menjadi narasumber. Kita mau bikin workshop pembukaan dan pengantar lalu mereka diberikan kesempatan untuk menulis, lalu Minggu depan mereka menyerahkan tulisannya dan kita diskusikan,” lanjut Pudentia. Pelatihan penulisan itu juga akan disertai dengan pelatihan fotografi.

 

Sekretaris Jenderal (Sekjen) ATL Jabatin Bangun menambahkan, jika ATL memiliki memiliki pengurus di 30 provinsi. Para pengurus tersebut umumnya menulis tentang tradisi lisan di daerahnya masing-masing dalam tulisan panjang yang bisa mencapai 30 halaman. Sebab itu, diperlukan pelatihan agar mereka dapat mengemas tulisan menjadi lebih populer dan ringkas.

 

Selain itu, pelatihan penulisan yang direncanakan berlangsung Maret 2024 tersebut bertujuan untuk mendorong topik-topik penulisan yang lebih beragam. “Saya kira juga ke depan materinya (tulisan tradisi lisan) juga diarahkan ke para tokoh atau maestronya. Selama ini semua kita sangat fokus pada tradisi lisannya, mungkin sebagian nanti perlu kita tambahkan maestro, tokoh-tokoh yang terlibat di dalam tradisi lisan itu sehingga lebih menarik dan orang juga merasa semakin memiliki,” ungkapnya.

 

Kerja sama UCLA

Di samping program jangka pendek itu ATL juga akan melaksanakan program jangka panjang Surveying the Recording The Oral Traditions Association, per 1 Juni 2024 – Maret 2025.

 

“Jadi mensurvei semua record kita mengenai tradisi ;isan yang ATL punya, jumlahnya sekitar 1000 rekaman baik video maupun suara. Itu rupanya jumlah yang besar. Itulah yang akan dibantu UCLA. Nah UCLA nanti punya hak untuk menyiarkan itu, mempublikasi data kita yang 1000 itu. Kita memberikan hak kepada UCLA untuk non profit seperti penelitian,” jelas Pudentia.

 

“Yang menarik itu lembaga asing melihat pentingnya seperti itu, sementara orang kita sendiri tidak melihat, kita terbiasa tidak melihat jangka jauh ke depan. Sedangkan mereka menulis di situ bahwa mereka bertanggung jawab untuk merawat semua data arsip, memperbaharuinya setiap kali sampai kapanpun,” pungkasnya.

 

ATL sendiri telah mendapatkan akreditasi internasional United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) sebagai mitra dalam memelihara warisan budaya tak benda sesuai Konvensi 2003. Pada 2020, ATL berhasil membawa pantun hingga menjadi warisan budaya tak benda UNESCO. Saat ini ATL juga tengah berfokus pada upaya pengajuan tari Makyong sebagai warisan budaya tak benda ke UNESCO. (M-1)

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *