Meruah Meriah di Krapela

R OW 9, sebuah gedung di seberang Stasiun Moda Raya Terpadu Blok M, Jakarta Selatan, menjadi magnet paling anyar bagi anak-anak muda pencari tempat nongkrong di Jakarta. Di lantai bawahnya ada kedai kopi juga beberapa kudapan. Tepat satu lantai di atasnya, ada restoran fine dining.

Hmmm… kesannya mungkin biasa saja, tapi cobalah naik ke lantai lima gedung tersebut. Ada hip-hip hura baru tercipta sejak satu-dua bulan terakhir. Sumbernya ialah Krapela. Tempat pertunjukan yang mendaku sebagai ruang dan bar modular terbuka. Di Krapela, tersaji panggung, area bar, dan area disjoki memainkan daftar putar untuk pesta.

Efek Rumah Kaca (ERK) menjadi band yang merayakan pembukaan Krapela pada 29 November 2023. Sejak itu, Krapela belum mau tidur. Mereka menggeber dengan jadwal padat hingga sebulan penuh, dan energinya berlanjut pada awal tahun ini. Menunya cukup beragam. Mulai dari musikus daftar A langganan festival hingga musik-musik yang lebih tersegmentasi khas panggung gig. Dari pop hingga eksperimental, Kunto Aji ke Kuntari, semua meruah secara meriah di Krapela.

Salah satu penampilan terbaru ialah Refo dan Fauna, yang membawa konsep sketsa drama dan musik. Suatu bentuk lain di Krapela jika melihat dari daftar agenda sebulan pertama mereka. Refo meracik musik dan sketsa bersumber dari kuesioner yang ia sebar ke pengikutnya di media sosial, khusus untuk ditampilkan di Krapela. Ia sendiri mengisi tiga kali Senin, dalam rentang 15-29 Januari 2024.

Dalam pertunjukan musik interaktifnya itu, Refo kerap membawa penonton naik ke panggung untuk ikut dalam dramanya. Musik-musik yang dimainkan di panggung tergolong baru. Dibikin dua hari menjelang pentas, hasil dari merespons cerita yang masuk.

“Krapela minta gue untuk bikin musikmusikan. Gue nawarin ke Pak Teguh (Teguh Wicaksono, Co-founder dan Direktur Program Krapela) untuk bikin musik dari penonton. Jadi penonton kasih ide cerita, nanti akan dibawakan di Krapela beserta sketsa ceritanya. Bahkan di tengah-tengah kami sisipkan iklan agar lebih interaktif dengan penontonnya,” jelas Refo saat dijumpai Media Indonesia di kawasan Bintaro, Kamis (18/1).

Lain Refo, lain Morgensoll. Band postmetal asal Jakarta yang digawangi Haecal Benarivo (gitar), Yohanes Devin (gitar), Faiz Aditya (bas & vokal), dan Bagas Wisnu (drum) ini tampil dengan penuh energi, yang membangkitkan gairah orang-orang untuk khusyuk menganggukkan kepala mereka. Lebih liarnya lagi, moshpit. Mereka tampil di akhir Desember dengan membawakan materi album Colors, yang perilisannya dibagi ke dalam dua bagian, Col dan Ors.

“Showcase Colors kami di Krapela waktu itu, dengan mood EP-nya (mini album) yang lebih agresif, menurut gue Krapela tempat yang cocok buat bawain Colors. Materi lagulagunya bikin orang gerak terus dan dengan skala segitu, cukup sih,” kata gitaris Morgensoll, Haecal Benarivo, lewat konferensi video dengan Media Indonesia, Jumat (19/1).

Yohanes, sang gitaris, menambahkan, Krapela dianggap punya akustik ruangan yang memadai, sekaligus konsep tempat
pertunjukan yang bisa mengakomodasi berbagai bentuk. Sementara itu, basis dan vokalis Morgensoll, Faiz Aditya, menyoroti soal kelengkapan yang dimiliki Krapela. Seperti lokasi FOH (Front of House), markas teknisi pengontrol mixer, yang di ruang khusus. Atau, tata letak monitor mixer untuk penampil yang berada tak jauh dari panggung. Itu semua ia nilai menjadi detail yang tampaknya dipikirkan dengan matang.

Ingin inklusif

Hadir sebagai tempat pertunjukan baru, Krapela menyebut ingin menjadi ruang yang inklusif. Menjadi wadah yang lebih bisa mendukung para musikus dan seniman, termasuk yang masih baru muncul (emerging). Namun, tidak menutup ruang juga bagi mereka yang sudah punya nama besar.

“Kurasi dilakukan program director kami, yang memang ada di industri musik juga dengan pengetahuan luas mereka sehingga apa yang kami hadirkan bisa beragam dan seimbang. Antara yang punya market besar dan yang idealis,” kata Creative Marketing Manager Krapela, Ziyan Agrily, saat dijumpai di Krapela, Jakarta Selatan, Senin (15/1).

Penulis konten, Nia, yang baru pertama kali mencicipi pengalaman Krapela saat Morgensoll menampilkan mini-album Colors, mengungkapkan bahwa Krapela menawarkan pengalaman secara visual, tata suara, hingga aksesibilitas ke lokasi yang sudah sangat baik. Ia, biasanya akan nonton gig karena memang mau nonton band yang mau dia saksikan.

“Sebenarnya pemicu aku datang ke gig itu biasanya karena sudah terekspos bandnya dulu. Bukan dari venue. Tapi, Krapela memberi pengalaman yang secara visual, sound, dan akses semuanya oke. Harga tiket sebanding sama tempat,” cerita Nia kepada Media Indonesia, Rabu (17/1).

Begitu pula Dini Adanurani, yang sudah dua kali datang ke Krapela. Ia merasa Krapela menawarkan pengalaman yang asyik, dengan ruang yang bernuansa santai dan desain ruangan fleksibel. “Seleksi musiknya juga cukup beragam,” katanya.

“Tapi aku kurang suka karena Krapela pakai smoke machine gitu. Pas aku nonton Nosedrip (disjoki), jadi rada pengap,” kata Dini, Rabu (17/1).

Keluhan sama juga muncul dari Nia. Menurutnya, Krapela bisa saja mengakomodasi para perokok di area luar atap (rooftop). Dengan begitu, para penonton non-perokok juga bisa lebih nyaman menikmati pertunjukan.

 

Menjaga napas

Tempat-tempat pertunjukan di Jakarta sendiri sebenarnya tidak kurang. Mulai dari yang bentuknya live house dengan skala besar seperti MBloc, Jakarta Selatan, yang bisa menampung sekitar 500 penonton, atau yang juga baru seperti Creative Culture Space di Ampera, Jakarta Selatan, yang memanfaatkan studio syuting dan bisa disulap untuk panggung gig, hingga Bengkel Space, SCBD, yang lebih mewah. Atau, yang cukup jadi rujukan bagi arus bawah, Rossi, di Fatmawati, Jakarta Selatan.

Ruang-ruang kecil seperti gabungan kafe hingga bar mini seperti Bloc Bar (juga di area M Bloc, Jakarta Selatan), atau rumah yang disulap jadi tempat manggung intim seperti Kongsi 8 di Jakarta Timur, kini juga menjadi alternatif mini-gig.

“Sebenarnya Jakarta enggak kekurangan venue. Acara juga variatif dari berbagai kolektif. Tapi ya mungkin kadang tantangannya di kecocokan harga antara performer penyelenggara-venue itu sendiri,” kata Nia.

Di antara hadirnya tempat-tempat baru pertunjukan musik, tidak luput pula beberapa tempat yang sudah lebih dulu eksis memutuskan tidak lanjut. Misalnya, Mondo atau Studio Palem yang sudah dua dekade hadir, tutup untuk nge-gig. Tantangan itu yang tampaknya perlu dijawab oleh Krapela sebagai ruang pertunjukan baru. 

Guest Relation Officer Krapela, Muhammad Indirwan, mengungkapkan, mencapai titik tengah untuk mengakomodasi berbagai lini segmen bisa menjadi salah satu cara untuk tetap menjaga napas panjang sebuah tempat pertunjukan.

“Itu soal balancing dari performer di Krapela. Dari awal kami bukan yang terlalu idealis, menampilkan semuanya itu sidestream. Tentunya kami juga melihat numbers sebagai bagian untuk mengejar pendapatan. Untuk menjaga sustainability, ya dengan menyeimbangkan komposisinya,” kata Indirwan, yang akrab disapa Indy.

Ziyan menambahkan, kata kunci inklusivitas menurutnya sudah bisa menjawab persoalan keberlanjutan. Sebisa mungkin, sebuah tempat bisa memberikan ruang yang setara, baik untuk musisi pendatang baru maupun mereka yang sudah punya nama besar. Plus, kata Ziyan, Krapela berusaha menawarkan ruang mereka terbuka bagi segala bentuk dan jenis seni. Bukan saja musik. Bisa saja seni pertunjukan
hingga pameran.

“Beberapa tempat yang mungkin tutup itu, ya, karena secara pemasukan memang enggak gede-gede banget, baik dari tiket atau sales makanan dan minumannya. Sementara, bisa jadi sales makanan dan minuman jadi income stream terbesar. Ini menurut gue yang bikin venue gig struggling dan pada akhirnya mati. Bottom line-nya tetap di sales, ketika tidak sesuai target, ya, selesai,” komentar Yohanes. (M-2)
 

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *