Puisi-puisi Krisnaldo Triguswinri

Awan Logam

lumut hijau yang merambati
ruas batu konblok di jalan setapak ini
menggenapi kesedihan dalam diriku.

kusaksikan orang-orang berjalan memunggung panjang
antara daun gugur dan batu kapur. menyisir granit-marmer 
italia, dan gundukan cekung tak bernama
yang diselimuti rerumputan zoysia 
di mana merambat lembut bunga-bunga.

kadangkala terdengar pula nestapa
dari siur angin yang menderau ilalang kering
bergemerincing dari semak belakang
puring. dan di sudut jauh saung
yang suwung itu––beringsut halimun putih lembayung
lamat-lamat termenung memandang
langkah mengendap orang-orang yang berkabung. 

kusaksikan terik terlalu panas
menghunus kamis. tanah liat yang berlapis
mengeras di betis––cangkul dan linggis 
berayun mengais tandus:
itulah mula peluh dari duka lara yang tak habis putus.

peluh adalah duka yang menguyupi
legam tengkuk penggali, mungkin juga kulit ari
dan elegi sebuah pagi
tentang nektar bunga bakung 
yang terselip mekar di kuping
dan rindang cempaka 
dari teduh mata 
bersemayam kekal
menyemai dalam kolosal

awan logam meruntuh
rasa sakit, patah
makin utuh patah.

2024

 

 

Sklera Merah Karat

kembang tujuh rupa
konkret-semen dan gulma
musim gugur adalah sengguk gemetar 
pucat pasi yang tak pudar
tentang cemas 
dan tangis yang selamanya membekas.

payung hitam
epitaf dan pualam
kecemasan adalah kicauan panjang
yang lengang
tentang sklera merah karat
berlipat-lipat sengsara yang bersimpuh berat.

harum kayu cendana
burung kedasih dan kamboja
tangisan adalah pekat langit erat mencekik
tentang duka penuh sesak, suara yang serak
raut murung
duduk bersila melarung kembang.

dan nyanyian jangkrik
terdengar dari semak di belukar
menengadah matanya yang bengkak
memurnikan duka sebagai bilur 
sebab air mawar membasuh tanah 
dan kegetiran yang tak lagi dapat dicegah.

2024

 

 

“Awan logam meruntuh rasa sakit dan patah makin utuh patah.”

 

 

Rumah Duka

dari dalam rumah
hari ke tujuh. dentang dzikir kembali terdengar
getir dan rapuh. dan ingatan berguguran 
tentang lagu pop kesayangan
gelang perak yang menggulung tangan
dan sebuah penepian di tabanan. harum gaharu
aroma sunsilk kuning dari rambutmu.
betapa saat itu pipinya pasi
putih dan tak dapat terpahami
kurengkuh lembut ujung senyumnya
yang merekah, dan betapa
saat itu gurat wajahnya cahaya.
kusaksikan kerumunan kembali menelanku, dan rumah duka
masih penuh karangan bunga 
layu dan menua. rumah duka
adalah langit yang tak sanggup meredakan gemuruh.
dan kusaksikan bendera kuning 
meliuk menopang kesedihan, menggoncang
kesangsian asing yang lain, dan memandang
betapa kepergian begitu menyilaukan. 

2024

 

 

Kain Lampin

1/
karpet turki
menyanggah badan
dan terbujur kitab suci.

2/
sehelai kain-lampin 
pandang merana
memanjat doa dan mendera.

3/
tenong bambu
bersenda kenang
duka mengerang.

4/
semerbak eucalyptus
bermandi kembang
sedekap terlentang.

5/
harum tubuh
berbaring di palung
dan menghadap ke tanah.

6/
dawai melambai 
sembunyi di fasad
sunyi sendiri kuselami zuhud.

2024

 

 

Obituari

baiknya kita tinggal kesedihan 
di tilas pesanggrahan. kilasan tentang
pesakitan dan jalan setapak yang
panjang, raut murung melarung
kembang, tentang rumah duka dan tubuh yang 
sedekap terlentang––sekelebat menjelma kupu
dan menggelepar di atas perutku.

pesakitan adalah ranum senyum jenaka 
di balairung anak tangga, mula-mula jabat tangan
selebihnya merekah kasmaran––kau seorang musisi 
milikku sepenuhnya cacophony, dan sebuah janji
menyusuri kerimbunan puitik baturiti.

jalan setapak adalah kedip lampu taman
semalaman, selendang membentang rerumputan 
silverqueen, sebekal apel dan ransel––kau tahu:
“di ubud seorang perupa melukis kuda putih
alangkah indah. aku memesannya untukmu.”

raut murung adalah harum parfum jo malone amber absolu
kala dagu mendarat di bahu, dan kau berkisah
sumringah––busurmu menggesek violin 
di theatre des bouffes-parisien, mengitari sungai seine 
baguette, seharusnya kita tak terbangun oleh ketukan pintu.

rumah duka adalah kafe bar di sanur
memutar monita tahalea pada turntable
kau tentu dalam setel terbaik––mengenakan nike
kancing kemeja setengah terbuka
dan rambut kepang yang digelung. 

tubuh terlentang adalah remang padam lampu
memutar lagu, wajah terkulai di atas sengal
sejengkal, leher basah yang beringsut lenguh
membuncah samar lipstikmu memudar
dan kita, sayang, bergantian mengayuh peluh.

2024

 

Baca juga: Puisi-puisi Yesmil Anwar
Baca juga: Puisi-puisi Imam Budiman
Baca juga: Puisi-puisi Farras Pradana

 

 

 

 

 

Krisnaldo Triguswinri, pemuisi, lahir di Jambi, 24 Oktober 1996. Menyelesaikan pendidikan pascasarjana di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Diponegoro, Semarang. Karya-karyanya baik puisi maupun esai telah terbit di pelbagai media lokal dan nasional. Bukunya adalah Jazz Untuk Nada (Puisi; Alkalin Project, 2016), Tidak Ada Pagi Revolusi, Sementara Ada Pagi Jatuh Cinta (Esai; Ikan Teri Production, 2021), dan Hari-Hari Berbagi Api: Gerakan Sosial, Wacana Alternatif dan Kritik Kapitalisme (Esai; Ikan Teri Production, 2022). Sehari-hari bergiat dan berkarya di Kota Jambi. Ilustrasi header: Igor Ponomarev. (SK-1)

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *